Adeodatus Daniel

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Lamunan Tentang Adanya Kecerdasan yang Dilatih dalam Permainan Tradisional

Mentari sudah ada di dekat-dekat penghujung barat saat saya melewati salah satu gang yang hanya sedikit-sedikit aspal itu. Saat setelah saya memberhentikan motor di sebuah warung samping jalan beberapa anak terlihat sedang asyik bermain. “Ping kala ping tulang anjing terjepit, burung satu mati satu lompat terjepit”, demikian nyanyian itu membuat saya kembali teringat tentang permainan yang sangat saya kenal saat masih kecil ini. Masih teringat betul suasana saat dan setelah lagu ini dinyanyikan. Semua anak dalam keaadaan siap mengangkat jari di telapak tangan salah satu teman agar tidak menjadi penjaga tiang sedang yang lain bersembunyi.

Ping kala ping adalah nama permainan yang sedang mereka mainkan. Di Kota karang dengan hiasan pepohonan jati yang sedang meranggas pada September tahun ini mulai mengingatkan saya akan permainan-permainan tradisional lain yang dahulu pernah saya mainkan. Dalam perenungan saya sempat berpikir, sebenarnya bagaimana orang dahulu berpikir untuk menciptakan permainan ini? Apa sebenarnya fungsi dari permainan-permainan ini diciptakan?

Teringat saya pada pikiran Dworetzky (1990) yang pernah mengemukakan tentang fungsi bermain dan interaksi dalam permainan mempunyai peranan penting bagi perkembangan kognitif dan sosial anak. Bukan seperti kebanyakan ibu-ibu yang selalu membatasi permainan anak, orang bule ini justru menganggap permainan tidak saja dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan sosial, tetapi juga perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral, kreatifitas dan perkembangan fisik anak. Dia kasih uraian tentang beberapa fungsi bermain yaitu: mempertahankan keseimbangan, menghayati berbagai pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari, mengantisipasi peran yang akan dijalani di masa yang akan datang, menyempurnakan keterampilan-keterampilan yang dipelajari, menyempurnakan keterampilan memecahkan masalah, meningkatkan keterampilan berhubungan dengan anak lain.

Demikian dalam hati saya mengaggap luar biasa cendikia ini, mampu melihat manfaat bermain yang justru sepertinya tidak pernah saya tahu bahkan saat sedang bermain. Dengan begitu banyak permainan tradisional yang sudah saya mainkan sejak kecil saya mulai mengira-ngira sebenarnya manfaat apa saja yang bisa saya dapatkan. Dalam pencarian saya tentang manfaat permainan tradisional itu saya mulai mengira-ngira dalam kebingungan cendikia siapa lagi yang bisa saya contek buah pikirannya. Saya pernah membaca di beberapa artikel dan teori yang paling dekat dengan jenis permainan itu adalah mengenai jenis kecerdasan pada anak. Saya bertanya dalam hati apa mungkin permainan yang kita mainkan ada hubungannya dengan kecerdasan kita?

Pada lembaran artikel cendikiawan luar negeri itu saya baca tentang beberapa teori, yang pertama adalah mengenai Multiple Intelegencies dari Howard Gardner (1993), dimana dia membagi kecerdasan anak kedalam 9 jenis yaitu: Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematis-Logis, Kecerdasan Visual-Spasial, Kecerdasan Kinestetik-Jasmani, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Naturalis, Kecerdasan Eksistensial. Selain Howard, Stenberg (1996, 2001) dalam studinya tentang kecerdasan mengetakan bahwa kecerdasan merupakan perpaduan dari analis, kreatifitas, dan kemampuan praktis. Bercermin pada pengalaman saya sejak kecil saya seakan bingunng karena istilah cerdas sendiri biasanya disematkan hanya untuk siswa berprestasi di kelas.

Kembali ke memori tentang jenis permainan tradisional yang sering saya mainkan semasa kecil, saya mengingat betul beberapa jenis permainan yang paling sering saya mainkan. Sebagai seorang anak yang bertumbuh di Kota Kupang maka permainan seperti ping kala ping, senjata dari batang pisang, gasing, dan kacang panjang merupakan permainan tradisional yang biasa saya mainkan sejak kecil. Lalu apa hubungan Dengan teori tentang bermain dan kecerdasan, apa mungkin bermain dapat membuat kita cerdas? Apalagi permaianan tradisional yang pernah saya mainkan. Maka untuk bisa memahaminya saya mulai berpikir dengan teori dari orang bule bernama Howard tadi.

Ada Kecerdasan yang Dilatih Dalam Permainan Tradisional

Dari banyaknya permainan tradisional yang pernah saya mainkan saat kecil saya memilih dua permainan yang biasa saya mainkan untuk menunjukan bagaimana sebenarnya jenis-jenis kecerdasan yang digagas Howard yang padahal terplikasikan dalam permainan tradisioal. Pertama, Ping kala ping adalah permaian yang umumnya dikenal dengan nama petak umpet. Permainan ini merupakan permainan yang biasa dimainkan sedikitnya oleh 2 orang, namun lebih menyenangkan jika dimainkan oleh 5-6 orang. Dalam permainan ini kita telah diuji kecepatan sejak awal saat menentukan siapa yang harus menjadi penjaga sedang yang lain bersembunyi. Jika kita terlambat kita harus bertugas sebagai penjaga sedang yang lain bersembunyi. Sebagai penjaga kita harus berusaha mencari teman yang bersembunyi dengan sabar dan penuh perhitungan. Sekalipun kita telah melihat teman kita kita harus dengan cepat menyentuh tiang atau teman yang dahulu menyentuh dan terbebas dari kemungkinan menjadi penjaga berikutnya. Menurut teori Howard dalam permainan ini kecerdasan yang diuji adalah: Kecerdasan musikal; karena biasanya menyanyikan lagu ping kala ping saat menentukan siapa yang jaga dan siapa yang sembunyi. Kecerdasan intrapersonal; saat melakukan permainan ini kita harus mengenal diri sendiri apa yang menjadi kelemahan kita contoh seperti gerak yang lamban, fisik yang lemah namun dalam permainan ini kita dipaksa oleh keadaan untuk mengatasi itu dengan berpikir cara mngatasinya. Kecerdasan Kinestik-jasmani; jelas jenis kecerdasan ini dilatih saat bermain ping kala ping karena dalam permainan ini kita melakukan banyak kegiatan fisik seperti lari, lompat, merunduk yang membuat tubuh terbiasa dalam mengekspresikan gagasan dari otak.

Kedua, Bermain Senjata dari batang pisang adalah permainan kampung yang sangat saya gemari. Permainan ini menuntut kita untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas kita untuk membuat sebuah mainan senjata dari bahan pisang. Setelah itu kita juga biasanya mulai melakoni peran seorang tentara dalam permainan ini. Jenis latihan kecerdasan yang paling tampak dalam permainan ini adalah kecerdasan Matematis-logis; dimana saat membuat senjata kita dilatih untuk meniru bentuk senjata asli sehingga perhitungan matematis digunakan dalam permainan ini. Dalam hal menyusun strategis juga kecerdasan matematis digunakan. Kemudian, Kecerdasan Visual-spasial dimana saat melakoni diri sebagai tentara kita dituntut untuk berimajinasi dan bertindak seperti tentara sebagaiman yang kita lihat di televisi atau seperti yang kit abaca atau kita dengar.

Dan masih dari sebelah warung yang saya singgahi ini, mulut yang melepuh karena kretek yang sudah jadi puntung itu menyadarkan saya bahwa memang permainan-permaian tradisional yang saya ingat diatas seperti telah mulai ditinggalkan. Jenis permainan video game seperti playstation, x-box, dan begitu beragam permainan di playstore atau google store seakan telah mengambil alih perhatian generasi zaman ini. Dari segi melatih kecerdasan yang bisa didapat dari permainan saya belum tahu mana yang lebih bagus, anda mungkin bisa lebih tahu dari saya.

Memang bukan salah teknologi yang berkembang jika beberapa yang dikatakan tradisional mulai dilupakan karena kita memang sudah hidup di zaman modern. Permainan-permainan seperti ping kala ping hanyalah dua jenis permainan yang telah banyak dilupakan bahkan di Kota Kupang ini. Dan sebenarnya saya juga percaya ada banyak permainan tradisonal lain di luar sana yang juga mulai berjalan menuju kata “dilupakan”.

Saya mulai lagi menyalakan mesin kendaraan saya dan bergegas pulang, pikiran nostalgia tentang permainan tradisonal itu juga akhirnya saya bantah, toh itu hanya permainan, apa gunanya jika masih ada berjuta permainan lain yang diciptakan. Hanya satu yang tak akan pernah habis di pikiran dan selalu saya kenang adalah orang yang telah menciptakan permainan tradisional yang pernah saya mainkan itu bahkan tak sadar jika permainan itu ternyata bisa meningkatkan kecerdasan anak yang memainkannya. Terima kasih dari saya untuk mereka yang telah menciptakan permainan tradisional.

Pernah diterbitkan di Kompasiana.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali